DISFUNGSI EREKSI

Jurnal Amerika Mengenai Suplemen Gastroentologi
February 1, 2015
Metiska Farma Berpartisipasi dalam The 4th National Congress Indonesian Association of Sexology (ASI)
February 1, 2015
Show all

DISFUNGSI EREKSI

DISFUNGSI EREKSI

Ditulis oleh Kevin T. McVary, M.D.

N Engl J Med 2007; 357:2472-2481December 13, 2007DOI: 10.1056/NEJMcp067261

Seorang pria berusia 65 tahun memberikan keterangan pada sebuah klinik rawat jalan, ia mengatakan bahwa dirinya tidak bisa lagi mempertahankan ereksi ketika melakukan hubungan seksual. Riwayat medis pria tersebut meliputi hipertensi yang terkontrol dengan baik dan penyakit arteri koroner yang juga stabil. Setiap harinya ia merokok satu bungkus rokok dan ia juga mengkonsumsi obat-obatannya meliputi atenolol dan aspirin dosis rendah sekitar (81 mg per hari). Sewaktu pemeriksaan fisik, keterangan kondisi pada tubuhnya tercatat (berat badan dalam kilogram dibagi dengan kuadrat dari tinggi badan dalam meter) adalah 31; Pemeriksaan yang dilakukan  tidak umum, dengan genitalia eksternal normal dan tanpa rontoknya bulu bulu pada organ tubuh . Jadi bagaimana seharusnya memeriksa dan mengobati pria tersebut?

MASALAH KLINIS

Disfungsi ereksi didefinisikan sebagai ketidakmampuan secara stabil untuk mencapai atau mempertahankan ereksi penis yang cukup berkualitas untuk medapatkan hubungan seksual yang memuaskan. Kondisi umum ini bertambah seiring bertambahnya usia. Pada sebuah contoh yang terwakilkan, pembelajaran  berbasis pada sebuah komunitas, 2 diantaranya  adalah  pria berusia antara 40 dan 49 tahun,  kondisi lengkapnya mengenai  disfungsi ereksi  sudah parah, tercatat 5%, sedangkan untuk  kondisi umum akan disfungsi ereksi tingkat sedang  untuk  laki-laki antara usia 70 dan 79 tahun  adalah 17% , angka ini secara terpisah berada pada titik 15% dan 34% . Telah diperkirakan bahwa kondisi disfungsi ereksi  di seluruh dunia akan mencapai 322 juta kasus di tahun 2025.

Penyakit disfungsi ereksi ini  pernah dipertimbangkan sebagai asal usul psikogenik dan sering diabaikan oleh pusat layanan kesehatan. Bahkan baru-baru ini, telah ada peningkatan atas pengakuan dari banyaknya penyebab fisiologis dari kondisi dan kemungkinan akan terapi untuk meningkatkan kualitas hidup pasien, harga diri, serta kemampuan untuk mempertahankan hubungan intim.

FAKTOR FISIOLOGIS

Fungsi seksual merupakan proses  kompleks yang melibatkan faktor  biologis dan  psikologis. Hasil ereksi dari kombinasi neurotransmisi dan respon otot polos  pada  pembuluh darah yang berujung pada peningkatan aliran arteri dan isyarat  antara sinusoid kavernosus endotelial berlapis dengan sel-sel otot polos yang utama. Oksida nitrat yang dihasilkan oleh parasympathetic nonadrenergic, neuron  noncholinergic dan sel endotel memicu molekuler  menghasilkan relaksasi pada sel otot polos. Proses ini menyumbat aliran balik vena melalui kompresi pasif subtunicalvenules, sehingga menyebabkan ereksi.

Kondisi yang berhubungan dengan disfungsi ereksi meliputi sindrom metabolik, gejala saluran kemih bawah pada benign prostatic hyperplasia, penyakit kardiovaskular, kondisi patologis system saraf  pusat (misalnya, penyakit Parkinson dan hemoragik atau stroke iskemik), penggunaan tembakau (dengan kondisi umum disfungsi ereksi dua kali lebih tinggi diantaranya pada perokok aktif  ataupun perokok pasif), diabetes mellitus, dan gangguan endokrin lainnya, termasuk hipogonadisme dan hiperprolaktinemia.

 

Faktor Resiko Pada Disfungsi Ereksi

Aterosklerosis, dengan disfungsi endotel terkait, berkembang dalam sirkulasi penis seperti halnya di tempat lain; lebih dari dua pertiga pasien dengan penyakit arteri koroner mengalami gejala disfungsi ereksi sebelum timbulnya gejala koroner. Untuk pasien dengan diabetes, risiko disfungsi ereksi meningkat dengan durasi kondisi dan dengan meningkatnya kadar hemoglobin terglikasi. Obat-obatan (baik dengan resep maupun tidak) dapat menyebabkan atau berkontribusi terhadap disfungsi ereksi contohnya ada pada 25% dari orang-orang yang telah diperiksa.

STRATEGI DAN BUKTI

Penilaian

Disfungsi ereksi bisa menjadi gejala  medis yang serius. Pengobatan harus dimulai dengan meninjau riwayat kesehatan, seksual, dan psikososial pasien. Tinjauan riwayat medis harus mencakup perhatian terhadap kondisi pasien sebelumnya yang mungkin mempengaruhi pembuluh darah atau fungsi neurologis, seperti trauma panggul, operasi, atau radiasi. Mengingat pengakuan hubungan antara gejala saluran kemih bawah dan disfungsi ereksi, disarankan untuk melindungi pasien dari iritasi dan gejala kemih obstruktif  (misalnya, dengan Skor Internasional Gejala Prostat (the International Prostate Symptom) skala penilaian dari 0 sampai 35, dengan skor 8 sampai 19 diindikasikan  gejala sedang). Obat-obatan (termasuk obat-obatan OTC ) pun harus ditinjau ulang, sebagaimana  penggunakan  produk seperti tembakau, obat-obatan terlarang, dan alkohol sebelum atau sesudahnya. Waktu terjadinya disfungsi ereksi juga harus dinilai secara  bertahap dan progresif menunjukkan penyebab organik, sedangkan pasien yang tiba-tiba mengalami disfungsi ereksi lengkap tanpa adanya trauma atau penyebab lain menunjukkan kemungkinan  penyebab sosial atau psikologis.

Pasien dan pasangan seksual nya harus diwawancarai tentang pengalaman hubungan seksualnya. Disfungsi ereksi harus dibedakan dari masalah seksual lainnya, seperti ejakulasi dini. Faktor-faktor seperti orientasi seksual, sejauh mana pasien terganggu oleh disfungsi ereksi, kecemasan kinerja, dan rincian mengenai teknik seksualnya pun harus ditangani. Pertanyaan-pertanyaan umum yang tersedia untuk menilai disfungsi ereksi, termasuk indeks Internasional mengenai fungsi Ereksi (International Index of Erectile Function) dan validasinya lebih mudah dikelola versi singkat nya, Inventori Kesehatan Seksual (the Sexual Health Inventory) untuk Pria. Lima item yang tersedia nantinya dipilih untuk mengidentifikasi ada tidaknya disfungsi ereksi untuk konsistensi dengan Institut Nasional Kesehatan mengenai definisi gangguan tersebut.

Pedoman praktik menyarankan pengukuran tingkat serum testosteron pada pagi hari untuk pria dengan disfungsi ereksi, meskipun harus diakui bahwa tingkat ambang testosteron untuk mempertahankan ereksi tidak diketahui dan mungkin tergantung pada faktor-faktor lain (misalnya, tingkat hormon luteinizing). Tingkat testosteron rendah dengan pasti menjamin pengukuran pengulangan secara bebas atau bioavailable testosterone, serta pengukuran prolaktin dan hormon luteinizing. Pengukuran kadar glukosa dan lipid, pengukuran tensi darah lengkap, dan tes fungsi  ginjal  juga dianjurkan atas dasar konsensus ahli. Penilaian vaskular berdasarkan injeksi penis prostaglandin E1, ultrasonografi dupleks, biothesiometry, atau pembesaran penis nokturnal tidak dianjurkan dalam praktek rutin sehari hari tetapi sesekali dapat membantu memberikan informasi mengenai asupan vaskular yang  diperlukan – misalnya, dalam pilihan pengobatan bedah (implantasi prostesis vs rekonstruksi penis).

PENGOBATAN

Terapi yang paling umum digunakan untuk pengobatan disfungsi ereksi meliputi terapi oral dengan inhibitor tipe 5 phosphodiesterase (terapi yang paling umum digunakan), terapi injeksi, terapi testosteron, perangkat penis, dan psikoterapi. Selain itu, data yang terbatas menunjukkan bahwa pengobatan yang didasari oleh faktor dan cara lain – misalnya, dengan penurunan berat badan, olahraga, pengurangan stres, dan berhenti merokok -juga dapat meningkatkan fungsi ereksi. Keputusan mengenai terapi harus memperhitungkan rujukan serta harapan pasien dan pasangannya.
Pasien mungkin tidak memiliki respon terhadap inhibitor 5 phosphodiesterase  karena beberapa alasan. Beberapa pasien mungkin tidak dapat mentolerir inhibitor 5 phosphodiesterase  karena efek samping yang berhubungan dengan vasodilatasi pada jaringan nonpenile mengungkapkan inhibitor 5 phosphodiesterase

atau dari penghambatan isozim nonpenile homolog (yaitu, 6 phosphodiesterase di retina). Penglihatan abnormal yang disebabkan oleh efek inhibitor 5 phosphodiesterase,   phosphodiesterase tipe 6 pada retina, dilaporkan hanya dengan sildenafil, adalah durasi pendek dan dianggap tidak signifikan secara klinis. Masalah yang lebih serius adalah kemungkinan bahwa inhibitor 5 phosphodiesterase  dapat menyebabkan neuropati optik iskemik anterior nonarteritic; walaupun data untuk mendukung asosiasi itu hanya terbatas, maka akan  bijaksana untuk menghindari penggunaan obat ini pada pria dengan riwayat kondisi seperti telah dijelaskan tersebut.  Pasien yang menerima inhibitor 5 phosphodiesterase harus diberitahu tentang risiko rendah perubahan ketajaman visual.  Jika perubahan tersebut terjadi, pasien harus dirujuk ke dokter mata. Perubahan ketajaman visual tidak harus khawatir akan bahaya   “kabut biru” yang disebabkan oleh inhibitor 6 phosphodiesterase di retina.

Mengingat hal yang utamanya terkait pada seringnya koeksistensi disfungsi ereksi dan penyakit arteri koroner, adalah kemungkinan bahwa pengobatan dengan inhibitor 5 phosphodiesterase mungkin dapat memicu iskemia koroner. Mengobati penyakit disfungsi ereksi  dengan apapun pendekatan nya, sedikit dapat meningkatkan risiko infark miokard hanya karena sedikit peningkatan dalam aktivitas fisik selama hubungan seksual (3 sampai 4 setara metabolisme) peningkatan itu terkait dengan kondisi sakit dan kenaikan tekanan darah dan jantung. Risiko absolut infark miokard selama berhubungan diperkirakan 20  juta per jamnya pada pasien dengan penyakit jantung iskemik. Meskipun demikian, ada baiknya untuk menilai status kardiovaskular pasien sebelum memulai pengobatan. Karena penggunaan 5 inhibitor phosphodiesterase bersamaan dengan nitrat dapat menyebabkan hipotensi, kombinasi ini secara ketat kontraindikasi. Rekomendasi tambahan untuk menyembuhkan disfungsi ereksi pada pasien dengan penyakit arteri koroner dirangkum dalam Pedoman Princeton untuk Pengobatan Disfungsi Ereksi pada pria dengan Penyakit Arteri Koroner.

 

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Disfungsi ereksi harus diobati dengan cara mengambil riwayat medis pasien secara hati-hati (dengan memperhatikan penyakit jantung, diabetes atau fitur lain dari sindrom metabolik, manifestasi hipogonadisme, operasi panggul sebelumnya atau trauma, dan obat-obatan) serta pemeriksaan fisik, mencari bukti gangguan yang mendasari seperti hipogonadisme dan penyakit pembuluh darah. Pengujian laboratorium yang terbatas dianjurkan, termasuk pengukuran kadar testosteron, glukosa, dan lipid. Berpindah dari obat yang berhubungan dengan disfungsi ereksi untuk alternatif yang tidak harus dipertimbangkan. Pada kasus seperti contoh diatas, misalnya, beta-blocker dapat berubah menjadi penghambat angiotensin-converting enzyme-untuk menilai apakah gejala pasien akan membaik dengan  tidak adanya beta-blocker. Selain itu, penurunan berat badan dan olahraga juga dianjurkan dan khususnya bagi perokok dianjurkan pula agar berhenti merokok.

SUMBER INFORMASI

Dari Northwestern University Feinberg School of Medicine, Chicago.
Alamat permintaan cetak ulang dialamatkan kepada  Dr. McVary at the Feinberg School of Medicine, Northwestern University, Department of Urology, Tarry 16-749, 303 E. Chicago Ave., Chicago, IL 60611, atau at k-mcvary@northwestern.edu.

Comments are closed.